Saeful Amri

Guru di SD Alam Ar Rohmah Malang , tepatnya di jl jambu no. 1 Sumber sekar Dau Malang. Hobi suka mencoba hal2 baru. Berasal dari kota kendal .* Salam kenal...

Selengkapnya
Budaya Anak
Bermain bakiak

Budaya Anak

Di era digital ini, banyak budaya arif Indonesia tergerus oleh mobilisasi dan akulturasi oleh budaya dari luar. Hal ini disebabkan oleh arus informasi yang sangat mudah dan cepat didapat. Salah satunya adalah banyak dari anak-anak kita sekarang yang lebih nyaman berada dirumah, main game atau yang lainnya.

Meskipun ketika anak-anak bermain di dalam rumah akan terjaga keamanan, dan tidak terpengaruh oleh lingkungannya. Padahal mereka tanpa disadari memahami budaya dari luar melalui game, media sosial dan internetisasi yang ada dirumah. Pengaruh dari luar inilah yang sebenarnya berbahaya bagi pikiran anak-anak kita. Mereka setiap hari harus mengkonsumsi budaya yang bukan merupakan fitrah bangsanya.

Waktu anak-anak yang banyak dihabiskan untuk bermain game atau yang lainnya, berdampak negatif pada sisi karakteristiknya. Mereka cenderung bersikap individual, acuh tak acuh dan non-kompetitif. Rasa solidaritas sesama teman menghilang, tidak peduli dengan lingkungannya dan gairah berkompetisi secara baik tidak tumbuh. Masih banyak lagi dampak negatif terhadap kembang tumbuh anak dari sisi karakter.

Apa budaya yang tergerus?. Budaya yang tergerus untuk anak-anak kita lebih kepada budaya bermain. Kalau melihat zaman usia kita masih anak-anak, banyak permainan-permainan tradisional yang sangat arif dan baik untuk kembangtumbuhnya karakteristik. Seperti halnya permainan gobrak sodor, main kelereng dan gomprangan juga permainan yang lainnya.

Permainan tradisional memberikan pengaruh besar terhadap pola sosialisasi anak-anak. Didalam permainan ini terdapat nilai-nilai yang sangat baik diantaranya nilai kebersamaan, kegotongroyongan, dan persatuan juga kerjasama. Sangat memungkinkan sekali apabila permainan tradisional ini, dimunculkan kembali sebagai bentuk menumbuhkan rasa persaudaraan dan kekeluargaan diantaranya generasi penerus.

Peranan orang tua harus lebih dominan dalam mengarahkan anak-anak agar menjadi anak-anak yang bisa bersosialisasi dengan lingkungannya. Tentunya sebelumnya orang tua harus lebih dulu paham akan dampak negatif yang bisa mengjangkiti anak-anak. Sehingga orang tua bersikap selektif dalam memilih dan mengarahkan anak-anak mereka.

Selain itu juga, pemerintah melalui pendidikannya harus memasukkan kurikulum yang berupa kegiatan-kegiatan yang menumbuhkan rasa peduli terhadap lingkungan disekitarnya. Dan jangan melulu anak-anak disibukkan oleh mata pelajaran yang notabene jauh dari nilai sosial budaya.

Semoga bermanfaat..!!

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali